Petani Garam Salah Satu Matapencaharian Warga Desa Pakamban Laok, Pragaan, Sumenep

Wildan Adji Nasrullah 17:58
Pemanfaatan alam yang dilakukan masyarakat pesisir selalu terkait dengan laut, salah satu pemanfaatannya sebagai area pertanian garam. Kegiatan pertanian garam sangat tergantung dengan kondisi musim. Kegiatan pertanian garam dilakukan pada saat musim kemarau yang terjadi selama kurang lebih 3-4 bulan yang dilanjutkan oleh proses produksi selama 1,5 bulan. Jumlah produksi garam laut tergantung pada sinar matahari. Mereka mampu memproduksi hingga 10 kilogram per hari selama musim kemarau pada bulan April sampai Oktober.
Gambar 1. Para petani merapikan terpal hitam sebagai pelindung dari
panas dan hujan (Foto : 19/07/2017)
Garam yang telah dipanen biasanya kira-kira dua kali tinggi orang dewasa, sementara luasnya sekitar 8 x 5 meter. Sebagai pembatas, terdapat pagar dari anyaman bambu yang melingkar. Sementara untuk menopang pagar, para petani memanfaatkan potongan bambu. Di atas timbunan garam nampak terpal hitam sebagai pelindung dari panas dan hujan.
Gambar 2. Lahan gram yang sedang dikerjakan Petani Garam  (Foto : 19/07/2017)
Saat ini, tidak begitu banyak petani garam di desa Pakamban Laok, Pargaan, Sumenep. Petani garam yang masih bekerja terlihat sibuk mengontrol proses pembuatan garam di ladang, padahal siang itu terik matahari begitu menyengat seluruh badan. Mereka tengah memasukkan tumpukan garam ke kantung-kantung kresek kecil.
Sebagian petani garam beranggapan bahwa pemerintah tidak bisa memfasilitasi petani garam khususnya di Madura, mengingat selama beberapa tahun terakhir di tengah melimpahnya produksi garam dalam negeri pemerintah justru menggencarkan impor garam. Tak hanya itu, petani garam juga harus menelan pil pahit lagi. Terlebih karena harga garam dalam negeri harus ikut kemauan pasar, padahal pemerintah sudah menetapkan harga standar. –kkn62

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »